Artikel

Saat hujan deras, kita khawatir banjir. Begitu kemarau datang, kita khawatir kekurangan air. Dua masalah ini berkaitan dengan satu hal yang sering luput dari perhatian: kondisi tanah.

Tanah yang sehat bekerja seperti spons. Pori-pori dan bahan organiknya membantu menyerap serta menyimpan air hujan. Sebagian air kemudian meresap lebih dalam, mengisi cadangan air tanah yang dibutuhkan saat musim kering.

Namun, ketika tutupan tumbuhan berkurang dan lahan tidak dikelola dengan baik, kemampuan tersebut bisa menurun. Air lebih banyak mengalir di permukaan sambil mengikis tanah. Material yang terbawa kemudian mengendap di sungai dan waduk, mengurangi kapasitas tampungnya.

Bersama hujan lebat dan kondisi wilayah yang rentan, kerusakan lahan dapat memperbesar risiko banjir. Karena itu, menjaga air harus dimulai dengan menjaga tanah.

Mengapa harus bekerja bersama?

Air tidak mengenal batas administrasi. Kerusakan lahan di hulu dapat berdampak pada masyarakat di hilir. Menjaga satu bagian sungai saja tidak cukup jika wilayah di sekitarnya terus mengalami kerusakan.

Di sinilah kolaborasi multipihak dibutuhkan. Pemerintah menyiapkan aturan dan pengawasan, masyarakat membawa pengetahuan lokal, akademisi membantu melalui riset, sementara dunia usaha mendukung lewat teknologi, pendanaan, dan praktik usaha yang bertanggung jawab.

Kerja sama ini bukan sekadar membagi tugas, tetapi memastikan semua pihak bergerak menuju tujuan yang sama.

Belajar dari berbagai inisiatif di Indonesia

Citarum Harum menunjukkan bahwa pemulihan sungai bukan hanya soal membersihkan sampah. Penanganan limbah, lahan kritis, dan edukasi masyarakat juga diperlukan. Indeks Kualitas Air Citarum meningkat dari 50,78 poin pada 2023 menjadi 51,05 poin pada 2024, meski statusnya masih cemar ringan.

Di Jawa Timur, Brantas Harmoni menggabungkan data dan masukan berbagai pihak untuk mendukung perencanaan pengelolaan kualitas air. Keduanya mengingatkan bahwa aksi perlu ditopang data, koordinasi, dan evaluasi.

Di daratan, agroforestri memadukan pepohonan dengan tanaman pertanian untuk membantu menjaga lahan sekaligus mendukung penghidupan petani. Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) berfokus pada pemulihan lahan rusak, dengan perawatan yang perlu berlanjut setelah penanaman.

Sementara itu, CITASAMA di Gunung Arjuno menghubungkan rencana penanaman pohon dengan pembangunan sumur resapan dan biopori. Pendekatan ini menggabungkan perlindungan lahan dan upaya menjaga cadangan air.

Pada skala lebih luas, GN-KPA mendorong kerja lintas kementerian untuk penyelamatan air. Water as Leverage di Semarang memperlihatkan pentingnya perencanaan yang menghubungkan perbukitan, permukiman, industri, dan pesisir.

Kita bisa mulai dari mana?

Menjaga area resapan, tidak membuang sampah ke saluran air, serta ikut merawat pohon atau sungai bersama komunitas adalah langkah yang bisa dilakukan sesuai kemampuan.

Namun, aksi individu tidak menggantikan tanggung jawab pemerintah dan dunia usaha. Perlindungan lingkungan tetap membutuhkan kebijakan yang dijalankan, pengawasan, serta pendanaan yang berkelanjutan.

Kolaborasi bukan selesai saat pohon ditanam. Ia berlanjut ketika pohon dirawat, kualitas air dipantau, dan penggunaan lahan dikelola dengan bertanggung jawab. Sebab, tanah yang kita jaga hari ini ikut menentukan ketersediaan air di masa depan.

Water Hand
Jadi Bagian dari Perubahan

Karena setiap orang berhak atas akses air bersih yang aman, mudah dan berkelanjutan hari ini, esok dan selamanya

rucika
Rucika Institute berkontribusi secara aktif dalam pengembangan sumber daya air, dengan memberikan kesadaran nyata bagi semua.
IGFBTT
Beranda
Artikel
Modul
Acara
Berita
Tour