Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Kualitas Air Baku dan IPA

Berita29 July 2026

Tahukah Anda bahwa emisi gas CO2 tidak hanya membuat suhu udara terasa lebih panas, tetapi juga mengancam ketersediaan air bersih kita? Di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu udara terus naik dengan rata-rata 0,03°C setiap tahunnya sejak periode 1981 hingga 2018. Peningkatan ini terjadi secara konsisten, baik pada suhu minimum maupun maksimum.

Sumber : https://www.bmkg.go.id/
Gambar 1 Tren peningkatan suhu udara di berbagai wilayah Indonesia (1981-2018)

Kondisi ini membuat atmosfer mampu menahan lebih banyak uap air. Dampaknya sangat nyata: wilayah yang basah menjadi semakin basah, sedangkan yang kering menjadi semakin kerontang. Pola cuaca yang kacau ini mempercepat krisis iklim dan memicu berbagai bencana ekstrem, seperti hujan lebat, kemarau panjang, hingga angin topan.

Di Indonesia sendiri, dampaknya tidak merata. Berdasarkan data BMKG dalam sepuluh tahun terakhir (dibandingkan periode 1980-2010), wilayah Pulau Jawa, sebagian Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi kini lebih sering diguyur hujan deras. Sebaliknya, wilayah timur seperti Papua dan Maluku justru mengalami penurunan curah hujan.

Sumber : https://www.bmkg.go.id/
Gambar 2 Tren perubahan normal curah hujan di wilayah Indonesia (1981-2018)

Berdasarkan data tersebut, sejauh mana perubahan iklim berpengaruh terhadap kualitas air baku dan system operasi IPA?

Dampak Nyata Terhadap Kualitas Air Baku

Perubahan curah hujan yang tidak menentu secara langsung merusak kualitas dan kuantitas air permukaan. Berikut adalah beberapa ancaman utamanya:

  • Saat Banjir Datang: Arus air yang deras dan cepat memicu erosi tanah, membawa lumpur serta sampah organik masuk ke sungai atau danau. Akibatnya, air menjadi sangat keruh. Sebuah studi di Pegunungan Ore, Jerman (Slavik et al., 2009) membuktikan bahwa hujan ekstrem 400 mm selama dua hari pada Agustus 2002 tidak hanya merusak sesaat. Kekeruhan dan pencemaran organik parah yang terjadi ternyata terus bertahan hingga berbulan-bulan setelahnya.

Sumber : Slavik et al, 2009
Gambar 3 Kadar organic dan turbiditas air permukaan sebelum dan sesudah hujan ekstrim di bulan Agustus 2002 di wilayah timur Pegunungan Ore, Jerman

  • Saat Kemarau Panjang: Debit air sungai akan menyusut drastis. Volume air yang sedikit membuat kontaminan—seperti limbah rumah tangga—tidak bisa terencerkan dengan baik. Penelitian di wilayah Brittany, Prancis, menunjukkan bahwa kondisi aliran air yang rendah membuat kadar karbon organik melonjak tajam karena kurangnya pelarutan alami.
  • Krisis Oksigen dalam Air (Penurunan DO): Tingginya tumpukan bahan organik, baik saat banjir maupun kemarau, membuat mikroorganisme harus bekerja ekstra keras. Mereka akan mengonsumsi banyak oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) untuk mengurai polutan tersebut, yang pada akhirnya meningkatkan beban pencemaran (Biochemical Oxygen Demand/BOD).
  • Suhu Air Ikut Memanas: Suhu air permukaan biasanya mengikuti suhu udara di sekitarnya. Saat suhu bumi meningkat, air sungai pun ikut menghangat. Suhu yang lebih tinggi ini mempercepat reaksi kimia pembentukan zat pencemar, yang membuat kualitas air semakin anjlok.

Sumber : Delpla et al, 2011
Gambar 4 Variasi kadar TOC, NO3-, turbiditas terhadap debit aliran rendah periode 1993-2009 di Brittany, Perancis

Imbasnya Terhadap Operasional IPA (Instalasi Pengolahan Air)

Sebagian besar PDAM di Indonesia sangat bergantung pada air permukaan. Ketika kualitas air baku ini memburuk akibat krisis iklim, layanan air bersih ke rumah-rumah pelanggan tentu ikut terancam.

Menyusutnya volume air jelas akan menghambat kelancaran pasokan. Di sisi lain, buruknya kualitas air memaksa pihak PDAM mengeluarkan biaya ekstra untuk proses penjernihan. Mereka harus menambah takaran bahan kimia penjernih (koagulan), lebih sering mencuci atau mengganti filter membran yang tersumbat mikroorganisme dan alga, hingga memperbanyak dosis desinfektan demi membunuh bakteri berbahaya.

Strategi Adaptasi yang Harus Dilakukan

Untuk memastikan air bersih tetap mengalir ke konsumen, operasional IPA harus segera beradaptasi dengan perubahan iklim. Langkah pertama adalah melakukan penilaian risiko: seberapa besar potensi bahayanya, tingkat kerentanannya, serta mampukah sistem yang ada saat ini menanganinya?

Jika sistem yang berjalan saat ini masih mumpuni, PDAM cukup menyesuaikan kembali prosedur operasional standar mereka. Namun, jika tingkat pencemaran air baku sudah melampaui batas kemampuan fasilitas yang ada, maka langkah adaptasi mutlak yang harus diambil adalah meningkatkan teknologi pengolahan atau mulai membangun instalasi pengolahan air (IPA) yang baru.

Water Hand
Jadi Bagian dari Perubahan

Karena setiap orang berhak atas akses air bersih yang aman, mudah dan berkelanjutan hari ini, esok dan selamanya

rucika
Rucika Institute berkontribusi secara aktif dalam pengembangan sumber daya air, dengan memberikan kesadaran nyata bagi semua.
IGFBTT
Beranda
Artikel
Modul
Acara
Berita
Tour