MENANTI 100% PELAYANAN AIR PERPIPAAN DI JAKARTA

Berita22 June 2026

Ketersediaan air bersih adalah fondasi utama bagi kesehatan masyarakat sekaligus penggerak ekonomi suatu wilayah. Tanpa infrastruktur air yang memadai, mustahil sebuah kota dapat tumbuh dan menjaga kelestarian lingkungannya.

Hingga akhir tahun 2025, cakupan layanan air perpipaan di DKI Jakarta tercatat baru menyentuh 80,24%. Sebagian besar wilayah yang belum teraliri air bersih ini berada di kawasan Jakarta Utara dan Jakarta Selatan.

Perluasan jaringan pipa di ibu kota berjalan lambat karena tiga rintangan besar: minimnya sumber air baku, tata ruang yang tidak sejalan dengan RTRW, serta tingginya tingkat kebocoran air (Non-Revenue Water/NRW).

 

Keterbatasan Sumber Air Baku

Secara hitungan di atas kertas, Jakarta sebenarnya memiliki potensi air baku melimpah mencapai 15 ribu m3 per kapita per tahun dari 13 sungai yang membelah kota. Sayangnya, sungai-sungai tersebut dalam kondisi tercemar berat sehingga memakan biaya pengolahan yang sangat mahal dan rumit.

Akibatnya, Jakarta sangat bergantung pada pasokan air dari luar daerah. Saat ini, 81% air baku Jakarta dikirim dari Waduk Jatiluhur, disusul pasokan PDAM Tangerang (14%), dan hanya 5% yang bisa diambil dari sungai lokal, yaitu Sungai Krukut dan Pesanggrahan.

 

Ketidaksesuaian Pemanfaatan Ruang dengan RTRW

Laju pembangunan Jakarta selama dua dekade terakhir melesat jauh meninggalkan kesiapan infrastrukturnya. Pemusatan kegiatan di titik-titik tertentu memicu lonjakan kepadatan penduduk yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Kondisi ini menyulitkan para insinyur untuk menanam jalur pipa baru. Tantangan di lapangan pun menumpuk: mulai dari sempitnya lahan di permukiman padat, jomplangnya volume kebutuhan air antarwilayah, hingga rumitnya mengatur tekanan aliran air.

 

Tingkat NRW yang Tinggi

Sebagai operator resmi, PAM Jaya mengelola 14 Instalasi Pengolahan Air (IPA) dengan kapasitas produksi 22.170 L/s (liter per detik) pada tahun 2024. Kapasitas ini sebenarnya mampu melayani 11 juta penduduk—dengan asumsi konsumsi 150 liter/hari/kapita dan tingkat kehilangan air maksimal 10%.

Faktanya, Laporan PAM Jaya 2024 mencatat tingkat NRW Jakarta mencapai 46%. Artinya, nyaris separuh air bersih yang diproduksi tumpah dan hilang di jalan sebelum sampai ke rumah warga, sebagian besar akibat pipa-pipa tua yang sudah keropos dan bocor.

 

Upaya Pemerintah Meningkatkan Cakupan Layanan Air Perpipaan

Menghadapi krisis akses ini, Pemerintah bersama PAM Jaya mematok target besar: mencapai 100% layanan air perpipaan. Upaya ini digenjot lewat tiga jalur paralel: menambah pasokan air, memperluas jaringan, dan menambal kebocoran.

 

1. Menambah Pasokan Air Baku

Pada tahun 2029, kebutuhan air Jakarta diproyeksikan melonjak hingga 32.950 L/s. Untuk menutup defisit tersebut, pemerintah mendatangkan bala bantuan air dari berbagai penjuru.

Kementerian PUPR turun tangan membangun SPAM regional dari Waduk Jatiluhur dan Waduk Karian. Di saat yang sama, PAM Jaya menggandeng investor swasta untuk mengembangkan SPAM lokal di Buaran, Pesanggrahan, Cilandak, dan Hutan Kota.

Kombinasi ini akan menyuntikkan debit tambahan: 4.000 L/s dari Jatiluhur, 3.200 L/s dari Karian, dan 4.650 L/s dari sungai lokal. Jika berjalan mulus, total pasokan air Jakarta akan aman di angka 32.950 L/s pada tahun 2029.

 

2. Memperluas Jaringan Distribusi

PAM Jaya menjalankan dua strategi utama untuk menjangkau seluruh warga pada 2029. Pertama, memperpanjang jalur pipa distribusi secara bertahap, dari 12.357 km pada tahun 2024 menjadi 19.234 km pada 2029.

Kedua, menghadirkan solusi sementara bagi kawasan padat yang berstatus lahan sewa atau ilegal. PAM Jaya mengerahkan mobil tangki serta membangun kios air. Saat ini 102 kios air telah beroperasi di Jakarta Utara dan Barat, dengan rencana penambahan 75 unit baru.

 

3. Menurunkan Tingkat NRW

Terakhir, PAM Jaya harus menambal kebocoran sistem lewat perbaikan fisik (merehabilitasi pipa keropos) dan penertiban komersial (mengganti meteran tua serta menindak pencurian air).

Program ini memikul misi krusial: memangkas tingkat kebocoran dari 46% menjadi 26%. Melalui tahapan program yang ditargetkan rampung pada 2025 tersebut, Jakarta diproyeksikan dapat menyelamatkan 1.522 liter air per detik yang selama ini terbuang sia-sia ke dalam tanah.

Water Hand
Jadi Bagian dari Perubahan

Karena setiap orang berhak atas akses air bersih yang aman, mudah dan berkelanjutan hari ini, esok dan selamanya

rucika
Rucika Institute berkontribusi secara aktif dalam pengembangan sumber daya air, dengan memberikan kesadaran nyata bagi semua.
IGFBTT
Beranda
Artikel
Modul
Acara
Berita
Tour