Air Tanah: Cadangan Terakhir yang tidak bisa Diisi Ulang

Berita20 August 2026

Saat kemarau, banyak desa di Indonesia mengalami kekeringan. Situasi ini makin parah setiap tahun. Bukan hanya karena jarang turun hujan. Cadangan air tanah kita ternyata sudah jauh berkurang. Padahal, ini adalah tabungan alam sejak ribuan tahun lalu.

Air permukaan seperti sungai memang lebih mudah didapat. Sayangnya, pasokan sumber ini sangat bergantung pada curah hujan. Saat musim kering, debit air pasti menyusut drastis. Akhirnya, masyarakat beralih menjadikan air tanah sebagai penyelamat utama.

Jumlah air tanah mencapai 30% dari total air tawar bumi. Porsinya jauh lebih besar dibandingkan dengan air permukaan. Indonesia masuk sepuluh besar negara dengan cadangan terbanyak. Namun, air melimpah ini bisa langka jika terus dikuras.

Proses pengisian ulang air tanah butuh waktu yang lama. Air hujan meresap perlahan hingga puluhan dan ratusan tahun. Sayangnya, banyak lahan hijau kini sudah tertutup beton. Akibatnya, air hujan terbuang percuma tanpa bisa meresap maksimal.

Idealnya, air tanah hanya dipakai untuk kondisi darurat. Fakta di lapangan saat ini justru berkata sebaliknya. Air tanah kini menjadi sumber air harian utama. Bahkan, 46% kebutuhan rumah tangga bergantung padanya, mengalahkan PDAM.

Eksploitasi air tanah terus meningkat secara tajam. Di Jakarta, penggunaannya sudah melewati ambang batas aman. Cekungan Bandung juga mencatat lonjakan yang sangat mengkhawatirkan. Sumur bor pribadi terus beroperasi deras tanpa ada kendali.

Secara global, permukaan air tanah turun sangat cepat. Di Jakarta, Bandung, dan Semarang, tanah ikut perlahan amblas. Penurunannya bahkan bisa mencapai 10 cm setiap tahun. Ini terjadi karena rongga di dalam tanah kosong setelah dipompa.

Banyak orang memilih air tanah karena dirasa sangat praktis. Jaringan pipa air seringkali belum menjangkau semua area. Air tanah juga dianggap jauh lebih murah dan efisien. Pengguna dapat menggunakannya langsung tanpa butuh biaya investasi tambahan.

Karena letaknya tersembunyi, air tanah terkesan tidak ada batasnya. Kita tidak bisa melihat penyusutannya dengan mata telanjang. Hal ini tentu berbeda dengan kondisi sungai yang terlihat mengering. Padahal, cadangan air ini terus menurun dan bisa benar-benar habis.

Kita bisa belajar dari keberhasilan pemulihan di Bangkok. Pemerintah di sana menaikkan biaya pompa air tanah secara bertahap. Kebijakan ini terbukti efektif menurunkan angka eksploitasi air harian. Hasilnya, ancaman penurunan muka tanah di sana bisa melambat signifikan.

Indonesia memang sangat kaya akan cadangan air tanah. Namun, kekayaan ini sia-sia jika terus dikuras tanpa rencana. Ingat, musim kemarau panjang pasti akan selalu datang kembali. Mari bertindak sekarang sebelum sumur kita benar-benar kosong mengering.

Water Hand
Jadi Bagian dari Perubahan

Karena setiap orang berhak atas akses air bersih yang aman, mudah dan berkelanjutan hari ini, esok dan selamanya

rucika
Rucika Institute berkontribusi secara aktif dalam pengembangan sumber daya air, dengan memberikan kesadaran nyata bagi semua.
IGFBTT
Beranda
Artikel
Modul
Acara
Berita
Tour